Chapter 1
Jakarta, 17 Juni 2008
( Edo Kurniawan & Joanna Anastasia )
Bel pulang sekolah SMA Merah Putih berdering panjang. Hari ini liburan kenaikan kelas udah mulai. Edo pulang jalan kaki sendirian, entah kenapa hari ini mood Edo jelek banget. Padahal hari ini mulai libur, tapi suasana hati Edo suntuk abis.
“Do, tungguin gue bentar dong.” Joanna yang lagi beli gorengan manggil Edo. “ Makasih ya, bang.”
“Buruan, panas nih.” Edo nyahut.
“Do, nanti sore ikut latihan musik gak?”
“Latihan? Latihan apaan? Gereja gak ada acara apa-apa kan.”
“Emang gak ada apa-apa sih, latihan aja. Biar jago” kata Anna kalem.
“Iya deh, nanti gue datang. Btw, loe ditawarin Kak Linda jadi pengurus gak?”
“Kak Linda sih belom ngomong apa-apa ke gue. Emang dia udah nanyain loe?” bales Anna.
“Dia nanyain gue jadi pengurus sie doa. Cuma gue masih belom jawab.”
“Emang kenapa, Do? Jadi pengurus kan asyik.”
“Ada deh, mau gue anter sampe rumah gak?”
“Gak usah. Entar sore jemput gue ya.” Anna belok ke gang rumahnya.
“Jam 4 gue ke rumah lu deh. Bye.” Edo sendiri muter ke arah kosnya.
Hidup gue, batin Edo sembari jalan, gini – gini aja. Rasanya dari dulu gak pernah berubah. Rasanya hambar banget. Jadi males idup gue.
Tiba-tiba Edo keinget Joanna, keinget bokapnya Joanna yang udah meninggal. Om Handi, bokapnya Joanna keelakaan waktu ngebantuin pelayanan di Jawa Tengah. Edo ngerasa bersalah udah mikir yang enggak-enggak. Mestinya dia bisa bersyukur, tapi entah kenapa hati Edo justru makin suntuk. Shit!
( Ruben Pratama Halim )
Jogja, 22 Juni 2008
Ruben telentang di ranjang kamarnya, emosinya masih amburadul. Dia baru aja dikeluarin dari kepengurusan komisi pemuda di gerejanya. Ruben tahu banyak yang kurang suka dengan cara kerja dia, cara berpikir dia, dan sikap dia. Tapi dia gak pernah berpikir kalau akhirnya bakal jadi kayak gini. Ruben ngerasa dikhianatin sama temen-temennya. Begitu juga majelis-majelis yang gak setuju sama program-program Ruben yang dinilai terlalu berlebihan untuk gereja mereka. Saat dia butuh temen-temennya, mereka justru ninggalin Ruben. Padahal dia udah nolak tawaran untuk kuliah di Jakarta dari saudaranya, Cuma supaya dia bisa tetep di tengah-tengah gereja. Rasanya dia udah ngasih sebagian besar waktunya untuk pelayanan, entah di pemuda, jadi guru sekolah minggu, atau ngajarin yuniornya maen musik. Rasanya dia udah ngasih semuanya
Pembinanya baru bilang, kalau kebanyakan pengurus gak suka dengan sikap dia. Yang cuek, jarang senyum, jarang ngomong, bahkan cenderung apatis.
Gue harus pergi dari sini, hati Ruben berontak, Jakarta
(Riana Immanuel)
Singapura, 19 Juni
Riana menghapus air matanya. Tiga setengah tahun di Singapura, dia harus meneruskan studinya di Indonesia karena papanya yang sakit dan gak bisa lagi membiayai dia sekolah di sana.
“Riana, are you all right?”, di muka pintu kamar mandi berdiri Evelyn dengan mata yang sembab habis menangis.
“No. I’m absolutely not. But I’ll be fine”, Rian mencoba gak keliatan cengeng di depan Evelyn.
“Wherever you are, know it that we love you.”
“Thanks.”
Riana udah 3 tahun ninggalin Jakarta, dan dia berharap gak bakal balik ke Jakarta karena di Jakarta dia boleh sama sekali gak punya temen. Makanya saat papanya nawarin dia sekolah di sana, dia langsung. Tapi justru di Singapura dia merasa kayak di rumah. Dia diterima sama temen-temennya, dia mulai aktif di kegiatan sosial. Tapi di Jakarta dia bukan siapa-siapa.
Mungkin kadang Tuhan gak adil, di saat kita berhasil meraih sesuatu, Dia langsung ambil lgi.
”Riana?”
”Ya?”
”Women ai ni”
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Prologue
Setiap orang pasti selalu ngerasain masalah dan pergumulan tiap hari. Terkadang kita memilih lari dari masalah kita entah dengan cara yang nutup mata kita atau cara apapun. Kita bisa milih lari dan berharap masalah kita gak akan balik lagi. Tapi untuk orang yang bisa milih satu-satunya cara mereka bisa tetep hidup, yaitu dengan maju melawan masalah yang ada di depan mereka. Sementara orang-orang di sekitar mereka bisa hidup sesuai impian mereka masing-masing,orang-orang yang gak punya pilihan seakan-akan menapak neraka tiap mereka buka mata. Orang-orang ini persis kayak ikanyang ngelawan arus, setengah mati. Bahkan di tengah-tengah orang –orang yang memakai judul ”Kristen” masih banak di antara mereka yang mesti berjuang sendirian untuk ngelawan arus. Cuma supaya mereka bisa tetep hidup. Supaya mereka bisa buat Bapa ngasih senyuman ke mereka.
One More Day
One More Day : Prelude to "Reason"
“Every long lost dream led me to where you are
Others who broke my heart they were like Northern stars
Pointing me on my way into your loving arms
This much I know is true
That God blessed the broken road
That led me straight to you”
Lirik God Bless the Broken Road dari Rascal Flatts mengalun pelan di kamar Ruben. Hari masih subuh, sebagian warga Jogja masih bergelung di selimut kenyamanan mereka masing-masing. Sedangkan sisanya sudah mulai berjuang untuk hidup, tanpa bisa memikirkan hari esok.
Ruben udah bangun, udah siap lari pagi seperti biasa. Tapi hari ini beda, udaranya, atmosfirnya, segala sesuatu terasa beda buat Ruben. Pelan-pelan Ruben ngiket tali sepatunya, turun ke lantai satu sambil jinjit-jinjit, dan membuka pintu pagar pelan-pelan. Orangtuanya masih tidur di lantai dua.
Ruben mulai lari-lari pelan ngikutin kali kecil deket ruamahnya. God Bless the Broken Road masih diputar di MP3 Ruben. Lagu ini yang selalu ngingetin dia sama Riana, liriknya pas banget. Lagu ini ada waktu Ruben jadian sama Riana, ada waktu ulang tahun Riana, pokoknya setiap momen penting pasti ada lagu ini. Sayang Ruben udah gak pacaran sama Riana lagi.
Sambil lari pikiran Ruben balik ke dua tahun lalu, di awal Ruben pacaran sama Riana. Ruben yang cenderung keras sama Riana yang baek banget, harusnya bisa saling melengkapi. Tapi mereka berdua justru sering banget berantem, kadang Cuma gara-gara hal sepele, walaupun kadang urusannya emang gede banget.
Ruben dan Riana sama-sama jadi pengurus komisi remaja. Dua-duanya sama-sama ngotot dalem rapat, dan gak jarang dibawa pulang dari gereja. Dua orang yang masih labil dan masih nyimpen sifat kekanak-kanakan nekat pacaran. Dan yang dihasilkan adalah rasa sakit, baik buat Ruben maupun Riana.
Ruben diem sebentar, kehabisan napas. Dia duduk sebentar di atas pembatas kali.
Tapi melalui setiap masalah itu gua makin dewasa, batin Ruben. Tiap kali gua rebut sama Riana, gua makin ngerti jalan pikiran dia. Ada saat-saat di mana gua udah mau nyerah dan mutusin hubungan kita, tapi rupanya Allah Bapa punya kehendak lain, soalnya melalui Riana gua bisa jadi jauh lebih dewasa.
Udah dua tahun gua jalan sama Riana, batin Ruben. Dan dalam dua tahun ini gua berubah banyak. Ruben nginget lagi waktu dia pertama kali rebut sama papanya. Entah kenapa makin lama keputusan-keputusan papanya makin terasa aneh dan gak efektif di mata Ruben. Papanya keras dan cenderung kasar, papanya orang yang sekeras besi dan dia punya anak yang sekeras baja. Dua tahun ini Ruben dan appanya boleh dibilang gak pernah bicara, walaupun bicara biasanya papanya Cuma nyuruh Ruben pergi beli sesuatu atau bantuin papanya.
Terakhir kali papanya marah seluruh rumah dibentak, Ruben mau ngamuk. Dia siap berantem sama papanya. Tapi dia milih lari, sebelum dia melakukan sesuatu yang akan dia sesali. Dia ke rumah Riana, dan dia buat pilihan yang tepat karena Riana milih kata-kata yang tepat buat menenangkan Ruben.
Dalam hati Ruben ada kemarahan, sakit hati, sifat pemberontak, tapi di atas semua itu ada kasih, dan Riana bisa mengangkat kasih itu naik ke permukaan.
Nafas ruben mulai gak teratur, tenggorokannya kering. Sekarang udah jam 5 pagi. semburat kemerah-merahan muncul di ujung timur, mulai banyak orang lalu lalang. Hari ini gak ada bedanya buat orang-orang lain, tapi ini berbeda buat Ruben. ruben duduk di trotoar, ngeliatin ibu-ibu ngangkat barang-barang dagangan ke pasar. Pasar Beringharjo yang terletak di jantung kota Jogja ga pernah mati. Dari makanan sampe kain batik semua ada di sini. Sayang satu persatu kawasan kayak pasar ini ditelan mal-mal.
Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dijual buah brem dan krasikan. Di sebelah selatan, ada penjual bakpia. Tapi entah sampai kapan keadaanya akan kayak gitu terus.
Ruben mulai ngatur nafasnya, dia mau lari lagi tapi kakinya udah mulai pegel. Tiba-tiba Ruben sadar, rupanya langit mendung. Dari tadi Ruben gak sadar karena langitnya terlalu gelap.
Ruben buru-buru lari pulang. Nafasnya gak teratur, jari-jarinya sakit, tapi yang paling ganggu adalah realitas. Kalo dia udah gak pacaran sama Riana lagi. Janji-janji yang udah diucapin sekarang cuma omong kosong. Kata-kata manis gak ada harganya, dan Kasih Bapa terasa jauh banget. Rasa sakit dan amarah campur aduk di dalam dada Ruben. Kebencian terhadap papanya yang dulu diredam Riana timbul lagi, sakit hati dan egoisme mulai dating lagi.
“The love of her life is drifting away
They’re losing the fight for another day
The life that she’s known is falling apart
A fatherless home, a child’s broken heart
You’re holding her hand, you’re straining for words
You’re trying to make sense of it all
She's desperate for hope, darkness clouding her view
She's looking to you
Just love her like Jesus, carry her to Him
His yoke is easy, His burden is light
You don’t need the answers to all of life’s questions
Just know that He loves her and stay by her side
Love her like Jesus
Lord of all creation holds our lives in His hands
The God of all the nations holds our lives in His hands
The Rock of our salvation holds our lives in His hands
He cares for them just as He cares for you”
MP3 player Ruben memutar lagu lain. Love them like Jesus, batin Ruben. Udah lama gua ga k denger ini lagu. Dulu biasanya Riana nyanyi lagu ini kalo pelayanan. Tenggorokan Ruben tercekat, dia gak bisa nafas. Dan saat itu Ruben sadar, rupanya Bapa sedang menggendong Ruben dengan tanganNya yang kokoh.
Hari ini bukan hari biasa buat Ruben, karena 2 hari yang lalu Riana meninggal dalam kecelakaan di jalan raya, dan hari ini adalah hari pemakaman Riana. Dan di hari ini, Ruben menggenggam tangan Bapa lebih erat dari sebelumnya.
-jidoy-
“Every long lost dream led me to where you are
Others who broke my heart they were like Northern stars
Pointing me on my way into your loving arms
This much I know is true
That God blessed the broken road
That led me straight to you”
Lirik God Bless the Broken Road dari Rascal Flatts mengalun pelan di kamar Ruben. Hari masih subuh, sebagian warga Jogja masih bergelung di selimut kenyamanan mereka masing-masing. Sedangkan sisanya sudah mulai berjuang untuk hidup, tanpa bisa memikirkan hari esok.
Ruben udah bangun, udah siap lari pagi seperti biasa. Tapi hari ini beda, udaranya, atmosfirnya, segala sesuatu terasa beda buat Ruben. Pelan-pelan Ruben ngiket tali sepatunya, turun ke lantai satu sambil jinjit-jinjit, dan membuka pintu pagar pelan-pelan. Orangtuanya masih tidur di lantai dua.
Ruben mulai lari-lari pelan ngikutin kali kecil deket ruamahnya. God Bless the Broken Road masih diputar di MP3 Ruben. Lagu ini yang selalu ngingetin dia sama Riana, liriknya pas banget. Lagu ini ada waktu Ruben jadian sama Riana, ada waktu ulang tahun Riana, pokoknya setiap momen penting pasti ada lagu ini. Sayang Ruben udah gak pacaran sama Riana lagi.
Sambil lari pikiran Ruben balik ke dua tahun lalu, di awal Ruben pacaran sama Riana. Ruben yang cenderung keras sama Riana yang baek banget, harusnya bisa saling melengkapi. Tapi mereka berdua justru sering banget berantem, kadang Cuma gara-gara hal sepele, walaupun kadang urusannya emang gede banget.
Ruben dan Riana sama-sama jadi pengurus komisi remaja. Dua-duanya sama-sama ngotot dalem rapat, dan gak jarang dibawa pulang dari gereja. Dua orang yang masih labil dan masih nyimpen sifat kekanak-kanakan nekat pacaran. Dan yang dihasilkan adalah rasa sakit, baik buat Ruben maupun Riana.
Ruben diem sebentar, kehabisan napas. Dia duduk sebentar di atas pembatas kali.
Tapi melalui setiap masalah itu gua makin dewasa, batin Ruben. Tiap kali gua rebut sama Riana, gua makin ngerti jalan pikiran dia. Ada saat-saat di mana gua udah mau nyerah dan mutusin hubungan kita, tapi rupanya Allah Bapa punya kehendak lain, soalnya melalui Riana gua bisa jadi jauh lebih dewasa.
Udah dua tahun gua jalan sama Riana, batin Ruben. Dan dalam dua tahun ini gua berubah banyak. Ruben nginget lagi waktu dia pertama kali rebut sama papanya. Entah kenapa makin lama keputusan-keputusan papanya makin terasa aneh dan gak efektif di mata Ruben. Papanya keras dan cenderung kasar, papanya orang yang sekeras besi dan dia punya anak yang sekeras baja. Dua tahun ini Ruben dan appanya boleh dibilang gak pernah bicara, walaupun bicara biasanya papanya Cuma nyuruh Ruben pergi beli sesuatu atau bantuin papanya.
Terakhir kali papanya marah seluruh rumah dibentak, Ruben mau ngamuk. Dia siap berantem sama papanya. Tapi dia milih lari, sebelum dia melakukan sesuatu yang akan dia sesali. Dia ke rumah Riana, dan dia buat pilihan yang tepat karena Riana milih kata-kata yang tepat buat menenangkan Ruben.
Dalam hati Ruben ada kemarahan, sakit hati, sifat pemberontak, tapi di atas semua itu ada kasih, dan Riana bisa mengangkat kasih itu naik ke permukaan.
Nafas ruben mulai gak teratur, tenggorokannya kering. Sekarang udah jam 5 pagi. semburat kemerah-merahan muncul di ujung timur, mulai banyak orang lalu lalang. Hari ini gak ada bedanya buat orang-orang lain, tapi ini berbeda buat Ruben. ruben duduk di trotoar, ngeliatin ibu-ibu ngangkat barang-barang dagangan ke pasar. Pasar Beringharjo yang terletak di jantung kota Jogja ga pernah mati. Dari makanan sampe kain batik semua ada di sini. Sayang satu persatu kawasan kayak pasar ini ditelan mal-mal.
Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dijual buah brem dan krasikan. Di sebelah selatan, ada penjual bakpia. Tapi entah sampai kapan keadaanya akan kayak gitu terus.
Ruben mulai ngatur nafasnya, dia mau lari lagi tapi kakinya udah mulai pegel. Tiba-tiba Ruben sadar, rupanya langit mendung. Dari tadi Ruben gak sadar karena langitnya terlalu gelap.
Ruben buru-buru lari pulang. Nafasnya gak teratur, jari-jarinya sakit, tapi yang paling ganggu adalah realitas. Kalo dia udah gak pacaran sama Riana lagi. Janji-janji yang udah diucapin sekarang cuma omong kosong. Kata-kata manis gak ada harganya, dan Kasih Bapa terasa jauh banget. Rasa sakit dan amarah campur aduk di dalam dada Ruben. Kebencian terhadap papanya yang dulu diredam Riana timbul lagi, sakit hati dan egoisme mulai dating lagi.
“The love of her life is drifting away
They’re losing the fight for another day
The life that she’s known is falling apart
A fatherless home, a child’s broken heart
You’re holding her hand, you’re straining for words
You’re trying to make sense of it all
She's desperate for hope, darkness clouding her view
She's looking to you
Just love her like Jesus, carry her to Him
His yoke is easy, His burden is light
You don’t need the answers to all of life’s questions
Just know that He loves her and stay by her side
Love her like Jesus
Lord of all creation holds our lives in His hands
The God of all the nations holds our lives in His hands
The Rock of our salvation holds our lives in His hands
He cares for them just as He cares for you”
MP3 player Ruben memutar lagu lain. Love them like Jesus, batin Ruben. Udah lama gua ga k denger ini lagu. Dulu biasanya Riana nyanyi lagu ini kalo pelayanan. Tenggorokan Ruben tercekat, dia gak bisa nafas. Dan saat itu Ruben sadar, rupanya Bapa sedang menggendong Ruben dengan tanganNya yang kokoh.
Hari ini bukan hari biasa buat Ruben, karena 2 hari yang lalu Riana meninggal dalam kecelakaan di jalan raya, dan hari ini adalah hari pemakaman Riana. Dan di hari ini, Ruben menggenggam tangan Bapa lebih erat dari sebelumnya.
-jidoy-
